kaligrafi

kaligrafi

Selasa, 01 November 2011

TIGA GOLONGAN ORANG MUSLIM DALAM AKTIVITAS IQOMATUDDIEN

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ شُرُوْرِ أنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتّدِى وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَلَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِوَنَعُوْذُبِاللهِ مِنْ يْرًا. أَمَّ بَعْدُ ...
Tugas iqomatuddien adalah kewajiab setiap muslim sesuai dengan kemampuan dan potensinya masing-masing. Sebagimana Alloh telah memerintahkan kita dalam Al-Qur’an Surat : As-Syuro : 13



” Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”


Terkait dengan kewajiban tersebut orang muslim terbagi menjadi 3 golongan
Dalam mensikapinya :

1. Golongan pertama :

Golongan yang menjual dirinya kepada Alloh secara ikhlas , mereka waqafkan diri dan hartanya di jalan Alloh. Mereka sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan ada kehidupan yang kekal yang dijanjikan oleh Alloh bagi setiap hambanya yang mau menjual diri kepada Alloh. Demikianlah sikap seorang Muqimuddin , seorang dai Islam, Waktu tenaga, pikiran, harta bahkan jiwanya telah diserahkan untuk kejayaan Islam. Alloh berfirman :

”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

2. Golongan kedua :

Golongan orang yang hanya mencari keuntungan pribadi saja, mencari enalnya sendiri tidak peduli dengan tugas iqomatuddirn . Orang ini tidak memiliki prinsip hidup sehingga yang ia lakukan adalah yang sekirnya menguntungkan hidupnya.
Golongan ini pada saat ada keinginan hati untuk dakwah maka dia lakukan, namun jika ada problem dalam dakwah yang dilakukan, tiba-tiba menjadi musuh dari gerakan dakwah itu sendiri.
Golongan ini tak faham hakekat transaksi jual beli dengan Alloh. Kehidupan dunia terlalu membelenggu dirinya sehingga membuat pribadinya menjadi hipokrit. ( bersifat munafiq ) Alloh berfirman :


” Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” Al-Hajj : 11

Meskipun musibah yang menimpa dirinya hanyalah masalah kecil saja, belum berkadar tinggi (berat) tapi karena terlanjur memendam penyakit wahn ( hubuddunya wakarohiyatul maut ) maka musibah kecil dirasakan sebagai kebinasaan. Akibatnya merugi dunia dan akhirat, sebgaimana firman Alloh :

Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” Al-Hajj : 11

3. Golongan yang ke tiga :

Golongan orang yang menempuh jalan hedonisme ( tujuan utama adalah kesenangan dan kenikamatan didup di dunia ) . Mereka tak mengenal nilai kecuali mengejar kesenangan yang sementara. Waktu yang dimiliki dibiarkan berlalu dengan kesia-siaan , tanpa arah yang pasti. Setiap yang menyenangkan dirinya dia lakukan meskipun dengan biaya yang besar.

Tipe orang ini tak mengenal keterlibatan dalam Iqomatuddien , pola hidupnya tak berbeda dengan orang kafir. Mereka telah melupakan dan meninggalkan nilai-nilai Islam kecuali skedar ritual dan formalitas administrasi saja sebagai orang Islam ( Islam KTP )
Alloh berfirman :


” Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”
( Muhammad : 12 )

Untuk itu hendaklah kita bersyukur kepada Alloh yang telah memberi hidayah kepada kita, dengan apa kita bersyukur atas hidayah yang diberikan oleh Alloh kepada kita dengan melaksanakan amanah-amanah yang dibebankan kepada kita, dengan semakin meningkatkan pengorbanan kita baik diri, waktu, tenaga, harta di jalan Alloh .

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut