kaligrafi

kaligrafi

Senin, 18 April 2011



addakwah.com. GELEGAR kedahsyatan sangkakala yang ditiup oleh malaikat Israfil akan menandai hancurnya alam semesta sebagai rangkaian dari tegaknya kiamat. Tiupannya  benar-benar mengejutkan manusia saat itu. Tiupannya akan memporak-porandakan seluruh alam dan membinasakan manusia. Bahkan, kedahsyatannya pun akan dirasakan oleh penghuni kubur. Sungguh, hiruk-pikuknya tak pernah terbayangkan.
 
Ghaib, Tapi Wajib Diimani
Sangkakala adalah terompet berbentuk tanduk  yang siap ditiup oleh malaikat Israfil yang selalu menunggu kapan diperintah Allah untuk meniupnya. Dari peniupan sangkakala inilah kejadian kiamat dimulai. Meski ghaib, peristiwa ini wajib diimani oleh setiap muslim, karena bagian dari akidah yang pokok.
Jumlah Tiupan
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menjelaskan jumlah tiupan sangkakala tersebut. Ada yang berpendapat tiupannya sebanyak dua kali. Ada yang berpendapat tiga kali. Bahkan, ada yang berpendapat empat kali.
Namun, pendapat yang paling tepat —wallahu a’lam bish-showab—adalah dua kali. Yaitu:
  • Tiupan yang mengejutkan.
Manusia akan sangat terkejut hingga mereka semua mati, kecuali yang dikehendaki oleh Allah. simaklah firman Allah berikut ini: 
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ
Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langint dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah. (Az-Zumar [39]: 68)
  • Tiupan untuk kebangkitan.
Pada tiupan kedua inilah manusia akan terbangun dari kubur mereka. Allah SWT berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kubur (menuju) kepada Rabb mereka. (Yâsîn : 51)

Seburuk-buruk Makhluk
Sebelum peniupan sangkakala yang pertama terjadi, seluruh makhluk yang beriman kepada Allah SWT akan diwafatkan. Hingga tersisalah mereka orang-orang kafir yang tidak mengenal iman dan amal shalih. Orang-orang yang hanya sibuk dengan urusan dunia dan mengingkari adanya hari kebangkitan. 
Tiupan sangkakala (yang pertama) terjadi dengan tiba-tiba dan mengejutkan. Mereka pun tak ada kesempatan untuk menuntaskan aktivitas duniawi mereka. Sungguh celakalah manusia yang mengalami peristiwa ditiupnya sangkakala yang pertama ini. Merekalah orang-orang yang jahat. Merekalah seburuk-buruk makhluk!
Firman Allah, “Dan orang-orang kafir itu mengatakan, ‘Kapan janji (hari kebangkitan) itu (terjadi) jika kalian adalah orang-orang yang benar?’ Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka juga tidak dapat kembali kepada keluarganya.” (Yâsîn :48-51)

Hari Itu, Hari Jum’at
Hari ketika ditiupnya sangkakala adalah hari Jum’at, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW,
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Tidaklah hari kiamat itu terjadi kecuali pada hari Jum’at.
 
Dan dalam sabdanya yang lain, “Sesungguhnya hari paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jum’at. Di dalamnya diciptakan Adam AS, dan di hari itu diwafatkan, di hari itu ditiupnya (terompet), dan di hari itu terjadi sha’iqah (pingsannya semua makhluk). Maka perbanyaklah shalawat atasku! Sesungguhnya shalawat kalian akan sampai padaku.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi)
 
Jarak Antar Kedua Tiupan 
Setelah alam semesta hancur dan seluruh makhluk yang bernyawa telah meninggal—kecuali yang dikehendaki oleh Allah—maka ruh manusia dan jin tetap berada di alam kubur menunggu ditiupnya sangkakala yang kedua. Jasad manusia dan jin telah hancur, kecuali jasad para Nabi dan Rasul. Semua tulang belulang dan anggota badan manusia hancur, kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor.
“seluruh badan manusia dimakan oleh tanah, kecuali tulang ekornya. Darinya ia dibentuk dan darinya pula kelak ia akan dibentuk lagi.” (HR. Muslim)
Dari tulang ekor inilah Allah menyatukan bagian-bagian tulang manusia yang lain. Allah kemudian menurunkan hujan dari langit yang akan menyatukan anggota-anggota badan manusia dan mengembalikan seperti sedia kala, sebagaimana saat ia belum mati. 
Setelah jasad seluruh manusia kembali seperti sediakala, Allah mengembalikan ruh kepada jasadnya, kemudian memerintahkan malaikat Israfil untuk meniup sangkakala kali yang kedua. 
Dengan tiupan inilah seluruh manusia dan jin bangkit dari alam kubur. Inilah peristiwa yang dinamakan dengan hari kebangkitan (yaumul ba’ts) dan hari pengumpulan (yaumul hasyr).
Jarak kedua peristiwa (tiupan pertama dan kedua) adalah empat puluh, tanpa adanya penegasan dari Rasulullah SAW; apakah empat puluh tahun, empat puluh bulan, ataupun empat puluh hari.
Dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Di antara dua tiupan itu ada jarak selama 40.” Para sahabat bertanya, “Apakah 40 hari?” beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” Para sahabat bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?” Beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” Para sahabat bertanya lagi, “Apakah 40 tahun?” Beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” (HR. Al-Bukhari) 
Hasbunallah wa Ni’mal Wakil
Demikian dahsyatnya huru-hara yang terjadi tatkala ditiupnya sangkakala, hingga tak memberikan kesempatan seorang pun untuk sempat bersenang-senang. Sebagaimana  yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW.
“Bagaimana saya bersenang-senang, sedangkan pemilik terompet (Israfil) telah melekatkan terompet pada mulutnya. Memasang telinganya dan mendekatkan dahinya; demi menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniup sangkakala.”  Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kalau begitu apa yang harus kami ucapkan?” Beliau menjawab, “Katakanlah: Hasbunullah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).” (Hadits Shahih Riwayat At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban). Allahu A’lam (Abilfarisi)

Minggu, 17 April 2011

YESUS BUKAN TUHAN


Drs.H. Zahir Khan SH. Dipl. T.E.F.L
Ketua Umum Lembaga Kristologi Indonesia
Direktur Iqbal Academy Indonesia
Mantan Diplomat Indonesia

Perlu kita sadari bersama bahwa selama ini sering terjadi perbedaan pendapat antara muslim dan Nashrani pada umumnya yaitu dikarenakan kesalahpahaman persepsi tentang siapa Yesus yang sebenarnya.
Hampir semua umat Kristiani di dunia ini beranggapan bahwa Yesus itu adalah Tuhan, sementara umat Islam dimanapun mereka berada, tidak ada satupun diantara mereka yang beranggapan Yesus sebagai Tuhan.
Buku kecil yang ditulis oleh sahabat saya bapak Insan LS Mokoginta  ini, memberikan suatu pandangan yang sangat rasional bagi kita semua, terutama bagi umat Kristiani dalam menntukan sikap terhadap siapa sebenarnya yang perlu disembah, apakah Yesus atau Allah, apalagi latar belakang dia segbagai seorang Mullaf mantan Kristen Katolik.
Sebagai Mantan Diplomat Indonesia, sudah cukup banyak Negara di dunia ini yang pernah saya singgah. Ternyata cukup banyak kaum intelek mereka yang tidak percaya lagi Yesus sebagai Tuhan. Bahkan sebagian ada yang mengatakan bahwa God was die (Tuhan telah mati). Lebih ironis lagi di Belanda, lebih ari 50% mereka telah keluar dari agama Kristen dan menyatakan tidak beragama, karena mereka ingin menghidar dari perpuluhan yang tiap bulan dipotong langsung dari gaji mereka. Hal ini terjadi karena mereka sudah tidak meyakini lagi Yesus sebagai Tuhan. Makanya tidak heran jika diluar negeri yang masuk Gereja hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek serta anak-anak kecil saja, bila anak muda risih ke Gereja, mereka merasa risih karena akan dianggap "too young" (Terlalu muda) karena Gereja hanya di isi oleh kakek nenk yang tinggal menghabisi sisa-sisa umur mereka dan anak kecil yang tidak paham.
Cukup banyak data menunjukkan bahwa di luar negeri sudah banyak gereja-gereja dujual karena ditinggalkan jemaatnya, dan ada sebagaian yang dibeli umat Islam dan telah dijadikan Masjid.
Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan jika buku yang ditulis oleh rekan saya bapak Insan LS Mokognta menarik sekali kita simak, karena argument yang disampaikan beliau begitu rasional, mudah dicerna. Ebih menarik lagi karena pak Insan LS Mokoginta ini adalah seorang Muallaf mantan Kristen Katolik.
Bukan hanya buku ini saja yang perlu kita baca, apabila kita ingin mengetahui lebih dalam tentang Ilmu Kristologi, terutama bila kita ingin mendakwahkan kebenaran agama Islam kepada mereka yang non muslim. Ada lebih sepuluh judul yang beliau tulis dan ada juga VCD perdebatan beliau yang perlu kita miliki apabila ingin berdakwah dikalangan ummat Kristiani.
Buku ini sangat baik dipakai oleh para da'i maupun siapa saja, terutama dalam meluruskan kesalahpahaman terhadap siapa diri Yesus itu yang sebenarnya menurut Al Qur'an & Al kitab.
Saya yakin buku ini akan memberikan andil yang besar dalam dunia dakwah, terutama di kalangan saudara-saudara kita kaum Nasrani.

Surabaya, 10 April 2005

Sambutan
DKH Abdullah Wasi'anPakar Kristologi Indonesia

Alhamdulillah, saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, di usiaku yang sudah uzur 89 tahun, ternyata masih sempat saya membaca dan menyaksikan bahkan memberikan sambutan dalam buku yang ditulis saudaraku Insan LS Mokoginta yang muallaf mantan Kristen Katolik ini.
Saya bangga dengan hasil karya beliau, karena judul buku ini sangat menarik sekali dibaca oleh siapapun baik ummat Islam apalagi ummat Kristiani.
Banyak penulis buku yang telah menulis seri kajian Kristologi seperti ini, namun tidak sekomplit dan sebanyak 101 Alasan seperti yang ditulis oleh saudara Insan LS Mokoginta dalam buku ini. Argument-argument beliau sangat rasional, logis, mudah dipahami dan berdasarkan ayat-ayat dalam dua kitab suci yang berbeda, yaitu kitab suci Al Qur'an dan Alkitab atau Bibe.
Saya sangat berharap agar buku ini bisa diterjemahkan dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris, agar bisa dibaca dan dipahami oleh bangsa lain dimanapun mereka berada.
Salah satu persoalan keimanan yang paling mendasar yang sangat berbeda antara Islam dan Kristen, yaitu masalah ketuhanan Yesus. Ummat Kristiani menyakini 100% bahwa Yesus adalah Tuhan, sementara bagi semua ummat Islam, meyakini 100% bahwa Yesus (Nabi Isa as) hanya sebagai Nabi atau Rasul Allah. Perbedaan tersebut hanya bisa diluruskan apabila ummat Kristiani mau membaca dan mengkritisi serta mengamalkan isi kandungan buku sekecil ini.
Cukup banyak saudar-saudara kita ummat Kristiani yang terpelajar mendapat hidayah masuk Islam setelah mereka mempelajari dan mengkritis kitab suci mereka sendiri. Untuk itu saya yakin buku ini akan banyak memberikan manfaat bagi kita semua dalam memahami kedudukan Yesus (Isa as) yang sebenarnya menurut Al Qur'an dan Alkitab, apalagi terhadap saudara-saudara kita yang Nasharni.
Seandainya ummat Kristiani mau benar-benar membaca dan menggunakan akal sehat, insya Allah jurang pemisah antara Islam dan Kristen akan semakin dekat, kehidupan sesame ummat beragama akan semakin harmonis.
Sebenarnya sudah sangat terlambat bagi kita ummat Islam menyampaikan pesan-pesan Allah dalam Al Qur'an, sebagaimana dulu Rasulullah saw mendakwahkan Islam kepada orang-orang Nasrani. Maka sekarang sudah saatnya kita menyampaikan, menyeru dan mengajak mereka ke dalam Islam, sebagaimana Rasulullah mengirim surat ajakan masuk Islam terhadap raja Heraclius di Roma. Dalam surat tersebut beliau (Nabi Muhammad saw) mengutip Qs 3 Ali Imran 64 sebagai berikut :
"Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah kita kepada kalimat (yang sebenarnya) sama antara kami dengan kamu (yaitu) bahwa tidak kita sembah selain Allah, dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah,". Maka jika mereka berpaling, katakanlah, "Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah muslim."
Perintah Allah tersebut, benar-benar Rasulullah laksanakan dan sampaikan kepada Ahli Kitab. Tapi sayangnya perintah kepada Ahli Kitab tersebut, sangat sedikit sekali da'i kita mau sampaikan, mengajak dan mendakwahkannya kepada Ahli Kitab agar mereka mau menerima Islam sebagai agama yang haq. Saya yakin buku ini besar sekali manfaatnya dalam dakwah Islam.
 









101 BUKTI YESUS BUKAN TUHAN

MENGENAL DAN MEWASPADAI JAHILIYAH



MENGENAL DAN MEWASPADAI
JAHILIYAH
Banyak orang yang mengira bahwa masa jahiliyah telah berakhir bersamaan dengan datangnya ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bahkan mereka mengira bahwa kejahiliyahan hanya terdapat pada masyarakat Arab sebelum Islam. Padahal sebenarnya kejahiliyahan ada pada setiap masyarakat, tempat dan masa. Dengan kata lain, kejahiliyahan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga. Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk memahami apa itu jahiliyah yang sebenarnya.
Umar Ibnul Khottob t berkata :
إِنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلاَمِ مَنْ لاَ يَعْرِفَ الْجَاهِلِيَّةَ
 Sesungguhnya akan terurai ikatan Islam ini sehelai demi sehelai, ketika dalam Islam orang  yang tidak mengetahui tentang jahiliyah.
Menurut Ibnu Taimiyah, seperti yang dikutip oleh Muhammad Qutb, jahl  itu bermakna “Tidak memiliki atau tidak mengikuti ilmu” Karena itu, orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang yang haq (benar) adalah jahil, apalagi kalau tidak mengikuti yang haq itu. Atau tahu yang haq tapi perilakunya bertentangan dengan yang haq, meskipun dia sadar atau paham bahwa apa yang dilakukannya memang bertentangan dengan yang haq itu sendiri.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman tentang jahiliyah yang penggunaannya untuk tiga hal. Hal ini menjadi penting untuk kita pahami agar dengan demikian kita menyadari bahwa jahiliyah itu tidaklah semata-mata bodoh dalam arti tidak punya ilmu, apalagi sekedar bodoh secara intelektual.

Pertama; Jahiliyah Dalam Ketuhanan

Banyak orang yang paham dengan berbagai ilmu. Akan tetapi mereka tidak paham dan tidak mengenal Allah Ta’ala.

Bahkan jika mereka ditanya tentang uluhiyah, rububiyah serta asma’ wa sifat Allah Ta’ala tidak mereka pahami sama sekali. Padahal salah satu hal yang wajib dipelajari oleh seorang mukmin adalah mengetahui siapa sebenarnya Allah Ta’ala. Maka pandainya ia dalam berbagai hal, akan tetapi tidak memahami hal ini tetap dianggap bodoh. Lihatlah kisah Bani Iisrail yang memohon kepada Rasulullah untuk dibuatkan sembahan sebagaimana sembahan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman :

وَجَاوَزْنَا بِبَنِى إِسْرَاءِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَل لَّنَآ إِلَهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)". (Al ‘Araf [7]: 138). 
Dalam Islam, mengetahui siapa Allah Ta’ala merupakan masalah yang paling mendasar, bila pada masalah ini manusia sudah menyimpang dari nilai-nilai Islam, maka tidak akan mungkin terwujud kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Perlu dipahami bahwa tugas utama seluruh Nabi adalah mengajak tauhid dan menjauhkan syirik. Sedangkan tauhi itu adalah mengesakan Allah Ta’ala. Karena itu, bila manusia mengabaikan misi para Rasul ini, kehancuran hidup dunia dan akhirat tidak bisa dielakkan lagi.

Kedua; Jahiliyah Dalam Akhlak

Kata Jahiliyah juga digunakan oleh Allah Ta’ala untuk menamakan akhlak atau prilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya penampilan seorang wanita yang tidak islami, sikap sombong, pembicaraan yang tidak bermanfaat, perzinahan dll.
Allah Ta’ala berfirman :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu (Al Ahzab [33]: 33).
Mujahid berkata, yang disebut bertingkah laku sebagaimana orang jahiliyah adalah keluarnya wanita dari rumahnya dan berjalan melewati para lelaki (Tafsir Ibnu Katsir).
Terdapat juga firman lain
: Ketika orang-orang kafir menanamkan ke dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min (Al Fath [48]: 26).
 Dan ayat yang menggambarkan kejahiliyahan dalam bentuk pembicaraan yang tidak bermanfaat adalah firman Allah yang artinya :
 artinya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil” (Al Qoshos [28]: 55).

Kejahiliyahan dalam akhlak telah membawa dampak negatif yang sangat besar sejak masa lalu hingga hari ini dan hari kiamat nanti. Terjadi kerusakan dibidang perekonomian, kemanusiaan, kekeluargaan, kemasyarakatan hingga lingkungan hidup yang didiami oleh manusia dan manusia mengalami akibat dari semua itu, Allah berfirman yang artinya :

: ‘Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)’. (Ar Rum [30]: 41).

Ketiga; Jahiliyah Dalam Hukum

Dalam masalah hukum, Allah Ta’ala juga menggunakan kata jahiliyah untuk hukum-hukum selain dari hukum Allah atau hukum yang bertentangan dengan hukum-Nya.
3
 Itu sebabnya seorang muslim jangan menggunakan hukum yang lain kecuali hukum Allah atau jangan gunakan hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dalam pelaksanaan hukum, manusia sebenarnya mencari keadilan dan manusia tidak akan memperoleh keadilan itu kecuali apabila hukum-hukum Allah ditegakkan. Karena itu, amat aneh apabila manusia ingin mendapatkan keadilan yang hakiki, tapi hukum-hukum lain, yakni hukum yang bertentangan dengan hukum Allah diperjuangkan penegakkannya. Hukum yang datang dari Allah memberikan keadilan bagi umat manusia, baik dalam masalah pribadi, keluarga maupun masyarakat, negara dan bangsa. Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin (Al Maidah [5]: 50).

Sebagai sebuah contoh, ketika beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta komentar atas terjadinya pelanggaran hukum yang dilakukan para pembesar masyarakat tapi mereka dibiarkan saja dengan kesalahan dan dosa yang mereka lakukan, maka Rasulullah menegaskan: “Seandainya anakku, Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya”. Disamping itu, ketika Ali bin Abi Thalib mengajukan ke pengadilan seorang Yahudi yang mencuri baju besinya kepada Khalifah Umar bin Khattab, maka di pengadilan itu, Umar justeru membebaskan orang Yahudi dari segala tuduhan, karena kesalahan yang dilakukannya tidak bisa dibuktikan secara hukum. Tegasnya amat banyak contoh dalam sejarah yang menggambarkan betapa bila hukum-hukum Allah ditegakkan, manusia akan mendapatkan keberuntungan, bahkan tidak hanya bagi kaum muslimin, tapi juga mereka yang non muslim. Sementara ketika hukum-hukum jahiliyah yang tegak, maka yang menderita bukan hanya mereka yang jahiliyah, kita yang taat kepada Allah juga bisa merasakan akibat buruknya.

Hanya persoalannya, begitu banyak manusia yang “bodoh” sehingga tidak bisa membedakan mana yang haq dan bathil dan akibatnya tidak bisa menjatuhkan pilihannya kepada kepada yang haq itu.

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mau berhukum kepada hukum Allah, ada dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang kafir,
Allah berfirman:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (Al Maidah [5]: 44).

Dalam kehidupan kita di dunia ini, tiga persoalan di atas merupakan sesuatu yang tidak terpisah-pisah, yakni aqidah, syari’ah dan akhlak. Karena itu, apabila pada tiga sisi ini tidak sejalan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya dalam diri kita, itu berarti terjadi kejahiliyahan pada diri kita yang tentu saja harus kita jauhi, karena kejahiliyahan merupakan sesuatu yang tercela dan itu sebabnya, Rasulullah Saw bertugas membebaskan manusia dari segala unsur kejahiliyahan.

Senin, 11 April 2011

OPINI KAMI TENTANG FILM : “ TANDA TANYA “


PLURALISME DALAM PANDANGAN ISLAM

( OPINI INI MENANGGAPI TENTANG FILM " TANDA TANYA " YANG MEMPROGANDAKAN ISU PLURALISME ) Bersamaan dengan meninggalnya Gus Dur, isu pluralisme kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun secara khusus memberikan gelar “Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur. Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya ?

Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya pemikiran beragam -agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain. Kadang-kadang pluralisme juga diartikan sebagai paham yang menyatakan, bahwa kekuasaan negara harus diserahkan kepada beberapa golongan (kelompok), dan tidak boleh dimonopoli hanya oleh satu golongan. Merujuk pada definisi kedua ini, Ernest Gellner menyebut model masyarakat yang menjunjung tinggi hukum dan hak-hak individu sebagai masyarakat sipil (civil society). Gellner juga menyatakan bahwa civil society merupakan ide yang menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang mampu mengimbangi kekuasaan negara.

Kemunculan ide pluralisme –terutama pluralisme agama- didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang dianggap sebagai pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, serta penindasan antar umat agama atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (lenyapnya truth claim). Adapun dilihat dari cara menghapus truth claim, kaum pluralis terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama berusaha menghapus identitas agama-agama, dan menyerukan terbentuknya agama universal yang mesti dianut seluruh umat manusia. Menurut mereka, cara yang paling tepat untuk menghapus truth claim adalah mencairkan identitas agama-agama, dan mendirikan apa yang disebut dengan agama universal (global religion). Sedangkan kelompok kedua menggagas adanya kesatuan dalam hal-hal transenden (unity of transenden). Dengan kata lain, identitas agama-agama masih dipertahankan, namun semua agama harus dipandang memiliki aspek gnosis yang sama. Menurut kelompok kedua ini, semua agama pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Gagasan kelompok kedua ini bertumpu pada ajaran filsafat perennial yang memandang semua agama menyembah Realitas Mutlak yang sama, dengan cara penyembahan yang berbeda-beda.

Inilah gagasan-gagasan penting seputar ide pluralisme agama yang saat ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara dan media, misalnya dialog lintas agama, doa bersama, dan lain sebagainya. Pada ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan pemerintah yang harus mengacu kepada HAM dan asas demokrasi. Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada setiap warga Negara untuk beragama, pindah agama (murtad), bahkan mendirikan agama baru. Setiap orang wajib menjunjung tinggi prinsip kebebasan berfikir dan beragama, seperti yang dicetuskan oleh para penggagas paham pluralisme.

Argumentasi Para Penggagas Pluralisme Agama dan Koreksinya

Meskipun ide pluralisme –baik yang beraliran agama global maupun kesatuan transenden — ditujukan untuk meredam konflik akibat adanya keragaman agama, dan truth claim, namun ide ini ujung-ujungnya malah menambah jumlah agama baru dengan truth claim yang baru pula. Wajar saja jika ide ini mendapat tantangan keras dari agama beserta pemeluknya, terutama Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, para pengusung gagasan pluralisme berusaha dengan keras mencari pembenaran dalam teks-teks agama agar paham ini (pluralisme) bisa diterima oleh kaum Muslim. Adapun alasan-alasan yang sering mereka ketengahkan untuk membenarkan ide pluralisme tersebut adalah sebagai berikut:

a. Surat al-Hujurat Ayat 13

Allah swt telah berfirman;

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “(al-Hujurat:13).

Menurut kaum pluralis, ayat ini menunjukkan adanya pengakuan Islam terhadap ide pluralisme.

Koreksi:

Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan ide pluralisme agama yang diajarkan oleh kaum pluralis. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Islam mengakui ‘klaim-klaim kebenaran” (truth claim) dari agama-agama, isme-isme, dan peradaban-peradaban selain Islam. Ayat ini juga tidak mungkin dipahami, bahwa Islam mengakui keyakinan kaum pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama yang ada di dunia ini menyembah Satu Tuhan, seperti Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim. Ayat ini juga tidak mungkin diartikan, bahwa Islam telah memerintahkan umatnya untuk melepaskan diri dari identitas agama Islam, dan memeluk agama global (pluralisme). Ayat ini hanya menerangkan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku dan bangsa, serta identitas-identitas agama selain Islam; dan sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme.

Agar kita bisa memahami makna ayat tersebut di atas, ada baiknya kita simak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki kredibilitas ilmu dan ketaqwaan.

Dalam kitab Shafwaat al-Tafaasir, Ali al-Shabuniy menyatakan, “Pada dasarnya, umat manusia diciptakan Allah swt dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam as. Tendensinya, agar manusia tidak membangga-banggkan nenek moyang mereka. Kemudian Allah swt menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal dan bersatu, bukan untuk bermusuhan dan berselisih. Mujahid berkata, “Agar manusia mengetahui nasabnya; sehingga bisa dikatakan bahwa si fulan bin fulan dari kabilah anu’. Syekh Zadah berkata, “Hikmah dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu dengan yang lain mengetahui nasabnya. Sehingga, mereka tidak menasabkan kepada yang lain….Akan tetapi semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia, kecuali keimanan dan ketaqwaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menempuhnya ia akan menjadi manusia paling mulia, yakni, bertaqwalah kepada Allah.”

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa surat Hujurat ayat 13 hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku, bangsa, agama, dan lain-lain. Adanya keragaman suku, bangsa, bahasa, dan agama merupakan perkara alami. Hanya saja, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya. Islam juga tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Bahkan, Islam menolak klaim kebenaran yang dikemukakan oleh penganut-penganut agama selain Islam, dan menyeru seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam Islam, jika mereka ingin selamat dari siksa api neraka. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(٦٧)وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ(٦٨)اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(٦٩)أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(٧٠)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ(٧١)

“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” Kalau mereka membantahmu juga, katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan. Rabb akan memutuskan apa yang kami perselisihkan di hari akhir. Apa mereka tidak tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan bumi. Semua itu ada di dalam pengetahuanNya , semua itu mudah bagi Allah. Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah, tanpa dasar ilmu. Mereka adalah orang-orang dzalim yang tidak mempunyai pembela.” (al-Hajj:67-71).

Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) agama. Hanya saja, Islam tidak pernah mengakui kebenaran (truth claim) agama-agama selain Islam. Tidak hanya itu saja, ayat ini juga menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah swt. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya, dan menyembah kepada Tuhan yang sama?

Di ayat yang lain, al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi di sisi Allah swt hanyalah agama Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19).

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).

Pada tempat yang lain, Allah swt menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nashrani, Zoroaster, dan lain sebagainya. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan diantara manusia ada yang mendewa-dewakan selain daripada Allah, dan mencintainya sebagaimana mencintai Rabb, lain dengan orang yang beriman, mereka lebih mencintai Allah. Kalau orang lalim itu tahu waktu melihat adzab Allah niscaya mereka sadar sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah, dan Allah amat pedih siksaNya.”(al-Baqarah:165).

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (al-Taubah:30)

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (al-Maidah:18)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan itu ialah Isa al-Masih putera Maryam.”(al-Maidah:72)

Ayat-ayat di atas –dan masih banyak ayat yang lain– menyatakan dengan sangat jelas (qath’iy), bahwa Islam telah menolak truth claim semua agama selain Islam. Islam juga menyatakan dengan tegas, bahwa konsepsi Ketuhanan Islam berbeda dengan agama selain Islam yang ada pada saat ini, alias tidak sama. Sedangkan agama Yahudi dan Nashraniy sebelum disimpangkan oleh penganutnya, dahulunya masih memiliki konsepsi ketuhanan yang sama dengan agama Islam, yakni tauhid. Hanya saja, karena keculasan para penganutnya, akhirnya dua agama menyimpang jauh dari konsepsi tauhid. Dari sini bisa dipahami, bahwa Islam tidak sama dengan agama yang lain yang ada pada saat ini, baik dari sisi cara penyembahan (bentuk empirik), maupun konsepsi ketuhanannya (aspek gnosis). Fakta nash telah menunjukkan kesimpulan ini dengan sangat jelas. Oleh karena itu, menyamakan Islam dengan agama selain Islam jelas-jelas keliru dan menyesatkan, bahkan terkesan dipaksakan.

Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang masuk ke neraka dan kekal di dalamnya. Padahal, al-Quran telah menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa orang Yahudi, Nashrani, dan kaum Musyrik, tidak mungkin masuk ke surganya Allah, akan tetapi mereka kekal di dalam neraka. Perhatikan ayat berikut ini.

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (al-Baqarah:111)

Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Hujurat ayat 13 bukanlah pembenar bagi ide pluralisme agama. Ayat tersebut hanya berbicara pada konteks pluralitas suku, bangsa, dan agama, dan sama sekali tidak berbicara pada konteks gagasan pluralisme, seperti yang diklaim para pengusung ide pluralisme. Bahkan, nash-nash al-Quran jelas-jelas telah menyatakan pertentangan Islam dengan ide pluralisme.

Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme, baik ide agama global maupun kesatuan transenden. Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui kebenaran (truth claim) agama selain Islam.

Adapun untuk memecahkan masalah pluralitas agama dan keyakinan, Islam memiliki sikap dan pandangan yang jelas; yakni mengakui identitas agama-agama selain Islam, dan membiarkan pemeluknya tetap dalam agama dan keyakinannya. Islam tidak akan melenyapkan identitas agama-agama selain Islam, seperti gagasan kelompok pluralis pertama (global religion).

Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan ‘aqidah Islam. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah murtad dari Islam.

b. Islam Tidak Memaksa Manusia untuk Masuk ke Dalam Agama Islam

Ayat lain yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme adalah ayat;

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:256)

Surat al-Baqarah ayat 256 ini sering dieksploitasi untuk membenarkan ide pluralisme. Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap dalam agama mereka. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengakui kebenaran agama selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekedar mengakui pluralitas (keragaman) agama.

Koreksi:

Sesungguhnya, ayat ini tidak bisa digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme. Ayat ini hanya berbicara pada konteks “tidak ada pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”. Sebab, telah tampak kebenaran Islam melalui hujjah dan dalil yang nyata. Oleh karena itu, Islam tidak akan memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa Islam membenarkan keyakinan dan ajaran agama selain Islam. Bahkan, ayat ini telah menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran itu ada di dalam agama Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas bathilnya. Hanya saja, kaum Muslim tidak diperbolehkan memaksa penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.

Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-diin pada ayat di atas (al-Baqarah:256) adalah al-mu’taqid wa al-millah (keyakinan dan agama). Sedangkan kandungan isi ayat ini, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, adalah; sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Sebab, kebenaran Islam telah terbukti berdasarkan hujjah yang terang dan gamblang; sehingga, tidak perlu lagi memaksa para penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.

Ayat ini tidak berhubungan sama sekali dengan ide pluralisme yang diusung oleh kaum pluralis. Bahkan, ayat ini menyatakan dengan jelas, bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sekaligus menolak truth claim agama-agama selain Islam. Tidak adanya pemaksaan atas penganut agama lain untuk masuk Islam hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui identitas agama mereka. Akan tetapi, Islam tidak mengakui sama sekali truth claim agama mereka. Bahkan, kaum Muslim diperintahkan untuk mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam agama Islam dengan hujjah dan hikmah.

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ

“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” (al-Hajj:67)

c. Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62

Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt. Dua ayat tersebut adalah:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(al-Maidah:69)

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah:62).

Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi’un, yang taat kepada ajaran agamadan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa Islam mengakui truth claim agama-agama lain yang ada pada saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya. Dua ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya Mohammad saw, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka. Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nashrani, maupun agama kaum Musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).

Untuk menafsirkan surat al-baqarah ayat 62, ada baiknya kita simak penuturan ahli tafsir berikut ini:

Menurut al-Sudiy, ayat ini (al-Baqarah: 62) turun berkenaan dengan shahabat-shahabatnya (pendeta-pendeta) Salman al-Farisi; tatkala ia menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-kebaikan mereka. Salman ra bercerita kepada Nabi saw, “Mereka mengerjakan sholat, berpuasa, dan beriman kepada kenabian Anda, dan bersaksi bahwa Anda akan diutus oleh Allah swt sebagai seorang Nabi.” Tatkala Salman selesai memuji para shahabatnya, Nabi saw bersabda, “Ya Salman, mereka termasuk ke dalam penduduk neraka.” Selanjutnya, Allah swt menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat, serta perilaku Musa as hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah diangkat menjadi Nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan mengambil perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau mengikuti Isa as, maka ia akan binasa. Demikian pula orang Nashraniy. Siapa saja yang berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as hingga datangnya Mohammad saw, maka ia adalah orang Mukmin yang amal perbuatannya diterima oleh Allah swt. Namun, setelah Mohammad saw datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi Mohammad saw, dan tetap beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan mengalami kebinasaan.”

Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah swt menurunkan surat, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”[Ali Imron:85]. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dll), ataupun perbuatan yang diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syari’atnya Mohammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum nabi Mohammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.” Inilah pengertian surat al-Baqarah:62; dan surat al-Maidah:59.

Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas ditujukan kepada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Topiknya sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang mengikuti agama nabinya dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi yang konsisten mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Adapun setelah Nabi Mohammad saw diutus di muka bumi ini, maka tidak ada satupun agama –selain Islam—yang mampu menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran, kecuali jika mereka mau memeluk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik –setelah diutusnya Mohammad saw—terkategori muslim, dan berhak memperoleh pahala dari Allah swt.

Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh kelompok pluralis terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69], tentu saja akan bertolak belakang dengan sabda Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Mohammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.” [HR. Muslim dan Ahmad]

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.” (HR. Abu Dawud)

Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab –Yahudi dan Nashrani—sebagai orang-orang musyrik. Allah swt berfirman: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31). Redaksi sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair adalah putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih putera Tuhan”.

Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim. Lantas, bagaimana bisa disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah swt, sementara itu mereka telah kafir dan musyrik? Bukankah Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran:

“Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia tidak diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka.”(al-Maidah:72).

“Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan bahwa Tuhan itu ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu. Jika mereka belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan mendapat siksa yang sangat pedih.” (al-Maidah:73)

“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.”(Ali Imron:19)

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).

Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak berhubungan dengan paham pluralisme.

d. Ayat Tentang Kalimatun Sawa’

Para pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang kalimatun sawa’.

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imron:64])

Para pengusung gagasan pluralisme mengatakan, bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan agama langit yang memiliki prinsip-prinsip ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama. Lebih jauh mereka juga menyatakan, bahwa umat Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari keturunan Ibrahim as; sehingga ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar kesejarahan dan nasab yang sama. Mereka pun menyimpulkan, bahwa tidak ada perbedaan antara Islam, Yahudi, dan Nashraniy dalam masalah ketuhanan. Semua menyembah kepada Allah, dan sama-sama berpegang kepada kalimat sawa’. Dengan kata lain, Islam pun pada dasarnya mengakui kebenaran konsep ketuhanan agama Yahudi dan Kristen sekarang ini. Akhirnya, agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama-sama benarnya dan sama-sama punya kans masuk ke surganya Allah swt. Sesungguhnya, penafsiran kaum pluralis tersebut, benar-benar telah menyimpang jauh dari makna sebenarnya.

Untuk mengetahui makna hakiki dari frase kalimat sawa’, kita dapat merujuk kepada ulama tafsir yang lebih kredibel dan netral dari kepentingan barat, diantaranya adalah Imam Ibnu Katsir.

Menurut Ibnu Katsir, frase “kalimat” di dalam surat Ali Imron ayat 64 tersebut dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat dipahami maknanya. Kalimat sempurna itu adalah “sawaa’ bainanaa wa bainakum” (yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian). Frase ini merupakan sifat yang menjelaskan kata “kalimat” yang memiliki makna dan pengertian tertentu. Adapun makna hakiki yang dituju oleh frase “kalimatun sawaa’ sawaa’ bainanaa wa bainakum” adalah kalimat tauhid, yaitu “allaa na’budu illaa Al-Allah” (hendaknya kita tidak menyembah selain Allah). Inilah makna sesungguhnya dari kalimat sawa’, yaitu kalimat Tauhid; yang menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (ilah) yang berhak untuk disembah kecuali Allah swt; bukan patung, rahib, api, dan sebagainya. Kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh Rasul yang diutus oleh Allah swt, termasuk di dalamnya Musa as dan Isa as. Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.” (al-Nahl:36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiyaa’:25)

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa surat Ali Imron ayat 64 di atas sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran Islam atas truth claim agama-agama selain Islam. Sebaliknya, ayat tersebut justru berisikan ajakan kepada ahlul kitab (baik Yahudi dan Nashraniy) untuk kembali mentauhidkan Allah swt, sebagaimana yang telah diajarkan pertama kali oleh Musa as dan Isa as. Sebab, kaum Yahudi dan Nashrani telah menyimpang jauh dari konsepsi Tauhid. Mereka telah menjadikan ahbar (pendeta-pendeta) dan ruhban (rahib-rahib) sebagai sesembahan selain Allah swt. Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Quran dengan sangat jelas. Allah swt berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)

Walaupun ayat ini tidak menyatakan, bahwa ahbar itu ditujukan khusus untuk kaum Yahudi, dan ruhban untuk kaum Nashrani, akan tetapi konsensus pengguna bahasa Arab telah memahami, bahwa dua kata tersebut khusus untuk orang Yahudi dan Nashrani.

Dari sinilah bisa dipahami, bahwa ayat ini merupakan seruan kepada orang Yahudi dan Nashrani agar mereka kembali ke jalan Tauhid, setelah mereka menyimpang jauh dari jalan tersebut (tauhid); yaitu ketika orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah, dan tatkala orang Nashrani mengatakan bahwa Isa as adalah putera Tuhan. Surat Ali Imron di atas tidak lain tidak bukan adalah ajakan agar orang Yahudi dan Nashraniy meninggalkan kemusyrikannya dan kembali menyembah kepada Allah swt semata, dan mengikuti ajaran Mohammad saw.

Demikianlah, ayat ini sama sekali tidak berbicara pada konteks kesatuan dan kesamaan agama seperti yang dinyatakan oleh kaum pluralis. Ayat ini sama sekali juga tidak menunjukkan, bahwa Islam mengakui gagasan pluralisme yang dijajakan di negeri kaum Muslim. Sebaliknya, ayat ini merupakan ajakan dan seruan kepada ahlul kitab agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yakni agama Tauhid seperti yang telah diajarkan oleh Musa dan Isa as. WaLlâh a’lam bi al-shawâb (Syamsuddin Ramadhan ).

Tambahan penyunting :

-          Pluralisme merupakan agama baru yang di prakarsai oleh orang-orang yang menganut pemikiran liberal  ( di Indonesia di motori oleh JIL  : Jaringan Islam Liberal ) selanjutnya baca makalah kami tentang lahirnya faham liberal.
-          Orang Islam yang meyakini kebenaran dari ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin pluralisme maka dia telah keluar dari Islam ( murtad )
Wallohu a’lam bis showab.

Sabtu, 09 April 2011

Sambutan
Drs.H. Zahir Khan SH. Dipl. T.E.F.L
Ketua Umum Lembaga Kristologi Indonesia
Direktur Iqbal Academy Indonesia
Mantan Diplomat Indonesia

Perlu kita sadari bersama bahwa selama ini sering terjadi perbedaan pendapat antara muslim dan Nashrani pada umumnya yaitu dikarenakan kesalahpahaman persepsi tentang siapa Yesus yang sebenarnya.
Hampir semua umat Kristiani di dunia ini beranggapan bahwa Yesus itu adalah Tuhan, sementara umat Islam dimanapun mereka berada, tidak ada satupun diantara mereka yang beranggapan Yesus sebagai Tuhan.
Buku kecil yang ditulis oleh sahabat saya bapak Insan LS Mokoginta  ini, memberikan suatu pandangan yang sangat rasional bagi kita semua, terutama bagi umat Kristiani dalam menntukan sikap terhadap siapa sebenarnya yang perlu disembah, apakah Yesus atau Allah, apalagi latar belakang dia segbagai seorang Mullaf mantan Kristen Katolik.
Sebagai Mantan Diplomat Indonesia, sudah cukup banyak Negara di dunia ini yang pernah saya singgah. Ternyata cukup banyak kaum intelek mereka yang tidak percaya lagi Yesus sebagai Tuhan. Bahkan sebagian ada yang mengatakan bahwa God was die (Tuhan telah mati). Lebih ironis lagi di Belanda, lebih ari 50% mereka telah keluar dari agama Kristen dan menyatakan tidak beragama, karena mereka ingin menghidar dari perpuluhan yang tiap bulan dipotong langsung dari gaji mereka. Hal ini terjadi karena mereka sudah tidak meyakini lagi Yesus sebagai Tuhan. Makanya tidak heran jika diluar negeri yang masuk Gereja hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek serta anak-anak kecil saja, bila anak muda risih ke Gereja, mereka merasa risih karena akan dianggap "too young" (Terlalu muda) karena Gereja hanya di isi oleh kakek nenk yang tinggal menghabisi sisa-sisa umur mereka dan anak kecil yang tidak paham.
Cukup banyak data menunjukkan bahwa di luar negeri sudah banyak gereja-gereja dujual karena ditinggalkan jemaatnya, dan ada sebagaian yang dibeli umat Islam dan telah dijadikan Masjid.
Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan jika buku yang ditulis oleh rekan saya bapak Insan LS Mokognta menarik sekali kita simak, karena argument yang disampaikan beliau begitu rasional, mudah dicerna. Ebih menarik lagi karena pak Insan LS Mokoginta ini adalah seorang Muallaf mantan Kristen Katolik.
Bukan hanya buku ini saja yang perlu kita baca, apabila kita ingin mengetahui lebih dalam tentang Ilmu Kristologi, terutama bila kita ingin mendakwahkan kebenaran agama Islam kepada mereka yang non muslim. Ada lebih sepuluh judul yang beliau tulis dan ada juga VCD perdebatan beliau yang perlu kita miliki apabila ingin berdakwah dikalangan ummat Kristiani.
Buku ini sangat baik dipakai oleh para da'i maupun siapa saja, terutama dalam meluruskan kesalahpahaman terhadap siapa diri Yesus itu yang sebenarnya menurut Al Qur'an & Al kitab.
Saya yakin buku ini akan memberikan andil yang besar dalam dunia dakwah, terutama di kalangan saudara-saudara kita kaum Nasrani.

Surabaya, 10 April 2005

Sambutan
DKH Abdullah Wasi'anPakar Kristologi Indonesia

Alhamdulillah, saya bersyukur ke hadirat Allah SWT, di usiaku yang sudah uzur 89 tahun, ternyata masih sempat saya membaca dan menyaksikan bahkan memberikan sambutan dalam buku yang ditulis saudaraku Insan LS Mokoginta yang muallaf mantan Kristen Katolik ini.
Saya bangga dengan hasil karya beliau, karena judul buku ini sangat menarik sekali dibaca oleh siapapun baik ummat Islam apalagi ummat Kristiani.
Banyak penulis buku yang telah menulis seri kajian Kristologi seperti ini, namun tidak sekomplit dan sebanyak 101 Alasan seperti yang ditulis oleh saudara Insan LS Mokoginta dalam buku ini. Argument-argument beliau sangat rasional, logis, mudah dipahami dan berdasarkan ayat-ayat dalam dua kitab suci yang berbeda, yaitu kitab suci Al Qur'an dan Alkitab atau Bibe.
Saya sangat berharap agar buku ini bisa diterjemahkan dalam berbagai bahasa, terutama bahasa Inggris, agar bisa dibaca dan dipahami oleh bangsa lain dimanapun mereka berada.
Salah satu persoalan keimanan yang paling mendasar yang sangat berbeda antara Islam dan Kristen, yaitu masalah ketuhanan Yesus. Ummat Kristiani menyakini 100% bahwa Yesus adalah Tuhan, sementara bagi semua ummat Islam, meyakini 100% bahwa Yesus (Nabi Isa as) hanya sebagai Nabi atau Rasul Allah. Perbedaan tersebut hanya bisa diluruskan apabila ummat Kristiani mau membaca dan mengkritisi serta mengamalkan isi kandungan buku sekecil ini.
Cukup banyak saudar-saudara kita ummat Kristiani yang terpelajar mendapat hidayah masuk Islam setelah mereka mempelajari dan mengkritis kitab suci mereka sendiri. Untuk itu saya yakin buku ini akan banyak memberikan manfaat bagi kita semua dalam memahami kedudukan Yesus (Isa as) yang sebenarnya menurut Al Qur'an dan Alkitab, apalagi terhadap saudara-saudara kita yang Nasharni.
Seandainya ummat Kristiani mau benar-benar membaca dan menggunakan akal sehat, insya Allah jurang pemisah antara Islam dan Kristen akan semakin dekat, kehidupan sesame ummat beragama akan semakin harmonis.
Sebenarnya sudah sangat terlambat bagi kita ummat Islam menyampaikan pesan-pesan Allah dalam Al Qur'an, sebagaimana dulu Rasulullah saw mendakwahkan Islam kepada orang-orang Nasrani. Maka sekarang sudah saatnya kita menyampaikan, menyeru dan mengajak mereka ke dalam Islam, sebagaimana Rasulullah mengirim surat ajakan masuk Islam terhadap raja Heraclius di Roma. Dalam surat tersebut beliau (Nabi Muhammad saw) mengutip Qs 3 Ali Imran 64 sebagai berikut :
"Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah kita kepada kalimat (yang sebenarnya) sama antara kami dengan kamu (yaitu) bahwa tidak kita sembah selain Allah, dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagaian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah,". Maka jika mereka berpaling, katakanlah, "Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah muslim."
Perintah Allah tersebut, benar-benar Rasulullah laksanakan dan sampaikan kepada Ahli Kitab. Tapi sayangnya perintah kepada Ahli Kitab tersebut, sangat sedikit sekali da'i kita mau sampaikan, mengajak dan mendakwahkannya kepada Ahli Kitab agar mereka mau menerima Islam sebagai agama yang haq. Saya yakin buku ini besar sekali manfaatnya dalam dakwah Islam.
 





101 BUKTI YESUS BUKAN TUHAN

Rabu, 06 April 2011

PERNYATAAN MUJAHIDIN TENTANG KRISIS DI MESIR


Refolusi melawan Mubarak
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين .. وصلى الله على نبيه الكريم .. وعلى آله وصحبه أجمعين
وبعد :
Telah sampai pada kami, dan sangat disayangkan atas apa yang diserukan oleh sebagian ahlul ‘ilmi di mesir yang tercinta pada seruan untuk menjauhi demo penentangan melawan pemerintahan di Mesir.
Dan disiyangkan lagi bahwa pilihan untuk menjauhi perlawan terhadap undang-undang yang telah merusak negeri dan manusia di dukung juga oleh kekuatan yang besar juga.
Sesungguhnya kita dapatkan hari ini di negeri-negeri kaum muslimin dipenuhi dengan pemdholiman dan dosa yang oleh islam diperintahkan untuk melawannya.
Allah Ta’ala berfirman dalam mensifati ahlul iman :

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ
Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. [ Asy Syuro : 39 ]
Dan Allah Ta’ala berfirman kepada orang yang didholimi untuk menolak dari kedholiman tersebut :
وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. [ Asy Syuro : 41 ]
Dan bersabda Rasulullah sallallahu alaihiwasallam :
Berperanglah karena hartamu sampai terlindungi hartamu. Atau terbunuh maka engkau menjadi suhada’ ahkirat. [ Shahih riwayat Ahmad dan Tabrani ].
Dan bersabda Rasulullah sallallahu alaihiwasallam :
Barang siapa yang berperang karena keholimannya maka ia syahid. [ HR. Ahmad dari Ibnu Abbas ].
Dan bersabda Rasulullah sallallahu alaihiwasallam :
Barang siapa berperang karena hartanya maka ia syahid. [ HR. Muslim ].

Sedangkan seruan untuk diam terhadap taghut dengan alasan menjaga keamanan negeri dan penduduknya …. Maka ia adalah penguatan terhadap kedholiman dan menyelisihi terhadap nas-nas syar’I yang memerintahkan untuk menghilangkan kedhaliman tersebut.
Sedangkan negeri dan penduduknya tidak akan lepas dari kedholiman kecuali dengan melawan para taghut dan melepaskan diri dari mereka.
Berapa banyak penjara-penjara di mesir dipenuhi oleh muwahhidin ?
Bukankah membebaskan penjara dari para muwahidin adalah kita lakukan ?
Sesungguhnya keluar dari cengkraman taghut adalah usaha yang besar dan sebuah kemenangan yang besar pula dan harus ditebus dengan harga yang mahal pula.
Jika kalian belum sanggup untuk membayarnya dengan harga mahal, maka tidak pantas bagi kalian untuk berbicara tentang menghilangkan kedholiman.
Bahkan tidak berhak bagi kita untuk bermimpi dengannya. Sesungguhnya orang-orang yang melarang terhadap orang yang sedang terkena musibah untuk merintih, dan melarang orang-orang yang sedih untuk menangis, dan melarang orang yang terdholimi untuk berkata pada yang mendholimi : cukuplah kedhaliman, dan melarang orang yang terpenjara kepada yang memenjarakan : berikan padaku kebebasan; maka sesungguhnya ia telah menolong orang-orang yang mendholimi tanpa ia rasakan !.
Apakah kalian ridho dengan kondisi ummat hari ini ?
Apakah mereka memiliki cara untuk menyelamatkan manusia pada kebahagiaan tanpa merasakan luka karena ulah para taghut ?
Wahai ummat Islam :
Sesungguhnya dosa yang diperbuat oleh para taghut telah menyebabkan tangisan lagit dan bumi. Maka wajib untuk saling menasehati dalam melawannya dan tolong menolong untuk memberantas perbuatan mereka.
Jika para ahlul ‘ilmi lemah untuk mengatakan kebenaran dihadapn mereka para taghut, maka tidak boleh untuk menggembosi ummat melawan mereka dengan berbagai kekuatan yang mereka mampui.
Bahkan wajib untuk menyatukan kata serta merapikan shof untuk melawan kedholiman dan melenyapkannya. Ini adalah termasuk ta’awun ‘alal birri wat taqwa yang Allah perintahkan dengannya.
Dan dengan kemampuan ummat islam hari ini, hendaknya mereka berkumpul atas satu kepemimpinan dan mengatakan pada para taghut mesir dengan satu kata turunkan Mubarak. [ terjemahan dari Atsaurotu dhiddul mubarok dgn beberapa perubahan ]
- Penulis : Abu mindzir as sinqithi
- Penterjemah Amru
Filed under: 'Adawah, News

Pengikut